

Bismillahirrohmanirrohim..
dengan niat baik, saya tulis catatan ini
Sekitar 2 pekan yang lalu, kira-kira hari kamis tanggal 24 Maret, saya menerima telepon dari nomor tidak dikenal. Seorang Bapak yang mengaku bernama Djasria Suryono. Kepentingannya adalah dalam rangka membeli buku Islam Liberal 101 yang diterbitkan oleh IndiePublishing. Tidak tanggung-tanggung, dia meminta 75 eksemplar buku sekaligus. Sebagai penerbit yang baru saja ‘bergeliat’, saya senang sekali mendapatkan purchasing order dalam jumlah yang banyak. Saya sempat bertanya apakah dia pemilik toko buku, distributor atau penjual buku eceran? Saat itu dia mengaku bahwa buku yang dipesannya akan dikirim ke Lampung, untuk dijual dalam sebuah acara bazar. Dan dia menjanjikan akan membayar cash pada saat buku diterimanya. Tanpa berpikir macam-macam, saya menyetujui transaksi tersebut, dan sepakat bertemu di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat.
Juma’at 25 Maret 2011
Saya sampai di stasiun Gondangdia dan menerima 80 buku dari Saudara Akmal Sjafril, penulis buku Islam Liberal 101. Bahkan kami sempat berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan si pembeli yang konon akan datang sekitar jam 10. Karena Akmal harus ngantor, maka tinggal saya yang menunggu di sana. Setelah lebih dari pukul 10, saya menghubungi si Pak Djasria. Sayangnya, saat itu dia mengaku masih ngawas ujian, (saya langsung berasumsi dia adalah seorang guru), dan baru selesai sekitar pukul 11 siang. Untuk efektifitas, saya berinisiatif mengantarkan saja bukunya langsung ke lokasi dia berada yang ternyata jauh dari stasiun Gondangdia. Yaitu di daerah Johar Baru, Jakarta Pusat. Bukan Jln. Johar yang ada di dekat stasiun Gondangdia. Dengan berpatokan alamat yang dikirimkan lewat SMS : DJASRIARA. S JLN. MARDANI RAYA GANG SWADAYA No. 27 RT.006 RW.01 KEL. JOHAR BARU, JAKARTA PUSAT. Meluncurlah saya ke sana. Meski kesulitan menemukan alamat tersebut, akhirnya saya sampai di sana. Tepat di mulut gang. Saya coba telpon kembali orang tersebut. Dengan alasan yang sama (mengawas ujian) dia memberikan alternatif meetpoint baru: Pasar Johar Baru, di depan Orangemart. Meski dongkol, saya menuju ke sana. 15 menit menunggu, akhirnya dia datang berboncengan motor. Seorang bapak dengan kisaran usia 45 tahun, rahang kiri/kanan lebih menonjol, tinggi sekitar 155 cm, berkaca mata, kemeja putih bergaris, celana bahan. Tipikal guru tsanawiyah (dalam pandangan saya).
Bersalaman, basa-basi, dan mulailah transaksi. Dengan alasan terburu-buru, dia mengatakan tidak sempat membawa uang cash. Dan berjanji akan mentransfer uang setelah shalat jum’at. Sungguh, meski berat dan bayangan effort jika saya membawa kembali 80 eksemplar buku tersebut, serta khusnudzon padanya, saya membiarkan dia membawa 80 eksemplar buku senilai hampir 3 juta tersebut, hanya dengan jaminan foto copy KTP, dan sumpah Wallahi (demi Alloh), bahwa dia akan melaksanakan kewajibannya ba’da jum’at nanti. KEBODOHAN BISNIS pun dimulai. Saya percaya, dan tawakal.
Jama’ah Jum’at pun sudah bubar, hingga Ashar. Angka di rekening tak berubah. Saya coba telpon, alasannya ba’ada jum’at tadi dia kirim tunai kliring via bank Mua’amalat ke BCA, dan baru akan sampai esok hari. Baiklah… saya masih belum sadar dengan tipu dayanya.
Sabtu, 26 Maret 2011.
Tak ada uang yang masuk ke rekening. Dan ketika saya telpon, alasannya dia lupa kalau hari sabtu tidak ada kliring, baru akan masuk hari Senin.
Senin, 28 Maret 2011.
Masih tak ada perubahan, dan sekarang alasannya adalah bahwa waktu hari Jum’at itu dia setor menggunakan giro, dan gironya bermasalah, sehingga ditolak oleh bank, dan sudah dia perbaiki, dan uangnya akan masuk besok. Begitu seterusnya, begitu seterusnya. Habis sudah kesabaran saya. Seperti orang yang baru tersadar sudah dipermainkan, saya hanya mampu berteriak lewat telpon. Di seberang sana, dia dengan akal liciknya mungkin tertawa tenang, dan menyiapkan beribu alasan lainnya untuk mengelabui saya.
Seminggu lebih kami meneror si pencuri dengan sms tagihan berkali-kali. Tapi hanya janji busuk yang dia berikan. Di internet, saya mencoba mencari jejak-jejaknya. Nihil. Lalu melalui pesan masal di sebuah grup facebook yang saya kelola, saya mengirimkan informasi ke lebih dari 1000 members grup tersebut. Gayung bersambut, seseorang dari sebuah penerbitan buku menghubungi saya, dan menyampaikan bahwa mereka pun sedang mencari orang yang saya maksud, dengan kasus yang sama. Dan beberapa orang lagi merespon dengan mengirimkan pesan terkait kasus serupa, dengan tersangka yang sama.
Duaar..! Sadarlah saya bahwa telah menjadi korban penipuan si penjahat buruk rupa tersebut. Dengan kata kunci “penipuan kepada penerbit” saya mencoba menelusuri lewat mesin pencari google, hingga sampai pada satu diskusi di sebuah milist : http://yhoo.it/ecaohJ <– silakan klik tautan tersebut untuk membaca secara lengkap diskusinya.
Benarlah, si buruk rupa pencuri dan penipu itu adalah penjahat lama. Modus operandi yang tampak innocent, berhasil mengelabui banyak penerbit. Indie-Publishing.com salah satunya. Meski sudah rela pada angka nominal, saya masih bersemangat untuk memberinya ganjaran setimpal. Bukan balas dendam! Tapi menyingkirkan kuman dan penyakit agar dunia penerbitan yang bergeliat lesu di Indonesia, tidak bertambah susah oleh laku bejadnya.
Untuk rekan-rekan yang pernah mengalami hal serupa, mari kita laporkan perbuatan yang satu ini ke pihak berwenang. Mari menghimpun kekuatan. Saya bisa dihubungi di nomor 085694771764, atau chating di cs_indiepublishing.
Terima kasih.
Dani Ardiansyah
Ini adalah scan foto copy KTP yang saya maksud (Entah asli atau palsu). Terakhir, Setan ini bisa dihubungi di nomor : 081284374250. Untuk penegak hukum yang membaca notes ini, mungkin bisa langsung mengambil tindakan jika anda tidak ingin dikatakan makan gaji buta. Saya siap menjadi saksi kejahatan ini.

Irhamna, anak ke-2 kami lahir dengan penuh persiapan. Persiapan yang sudah jauh-jauh hari disusun dan direncanakan. Pun tidak semua persiapan itu terpenuhi pada waktunya. Satu pelajaran berharga yang meneguhkan keyakinan bahwa Dialah Sang Perencana yang sesungguhnya.
Nibras beranjak besar, 19 bulan usianya. Usia ketika dia membutuhkan perhatian penuh dari kami. Transformasi sikap, kebiasaan dan perilakunya mulai nampak ke permukaan. Idealnya, kami –orang tuanya– “hadir” full tanpa sekat pembatas apapun. Siap dengan jawaban se ensiklopedi atas semua pertanyaan derasnya.
kelak, pada sebuah sore yang meninggalkan rona kekuniangan pada dinding-dinding rumah mungil kami, ketika angin bertiup semilir dan menggugurkan dedaunan kering dari bougenville rindang yang tak jauh dari pagar, saya akan mengajak anak-anak saya berkeliling teras yang tak lebih luas dari halaman depan. Jauh-jauh hari sebelum mereka tumbuh dewasa, saya banyak menggantungkan bingkai-bingkai foto di setiap dinding rumah. Terutama di beranda. Hampir pada semua sudut simetrisnya terpajang beraneka bentuk pigura berisikan wajah-wajah yang tak jarang asing. Bahkan, tidak sedikit dari pigura-pigura itu kosong tak berwajah.
Belakangan, kegiatan menulis yang saya lakukan sangat terbatas. Bahkan hampir hilang sama-sekali dalam rutinitas keseharian yang saya lakukan. Bukan tanpa sebab memang, karena kondisi yang ada dan terjadi akhir-akhir ini, mendorong saya untuk lebih fokus dan menucurahkan perhatian pada hal lain yang –dalam benak saya– dapat mendatangkan profit yang lebih real dalam kehidupan nyata sebagai seorang kepala keluarga. Kebutuhan hidup yang terus mendesak, duedate Endah yang sudah tidak lama lagi, persiapan operasi cesar, pasca operasi dan lain-lain adalah sebagian besar –yang saya jadikan alasan– penyebab saya tidak lagi produktif menulis. Dengan kata lain, hal-hal itu membuat saya lebih berfikir materialistis. Bahwa setiap hal yang saya lakukan harus menghasilkan profit demi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Selatan Jakarta cukup berdebu siang itu, Sabtu 20 Juni 2009. Saya punya janji dengan aktivis milist Pembaca AsmaNadia untuk mengikuti workshop mendongeng di daerah Pondok Indah. Kak Ucon yang sudah berpengalaman menjadi pendongeng didaulat sebagai pemateri.



